Bali, Garam yang kurang asin

 on Thursday, December 12, 2013  

Garam yang kurang asin? Apa itu? Yup, kalau garam jadi kurang asin, kayaknya bukan garam dan harus diasinkan lagi. Kebetulan kemarin tanggal 2 sampai dengan 4 Desember 2013 penulis mendapat kesempatan untuk hadir di Information Systems International Conference (ISICO) 2013 di dua tempat yang berbeda, yaitu di Inna Grand Beach Hotel di Sanur dan di kampus STIKOM Bali.

Pada saat mendarat di Ngurah Rai, penulis membayangkan sebuah gedung khas Bali yang mirip dengan pura ciri khas Bali. Bayangan penulis akan sebuah bangunan bandara penuh ukiran dari kayu dan lukisan lukisan bercorak penuh warna khas Bali. Beberapa tahun lalu, penulis pernah datang ke Bali (waktu karya wisata SMA tahun 1994) dan tahun 2009. Waktu itu kondisinya masih seperti bayangan penulis tadi.

Namun bayangan seperti diceritakan diatas tadi tidak terwujud karena waktu mendarat di Ngurah Rai, “rasa Bali” yang dulu demikian kental telah hilang. Bandara Ngurai Rai memang sedang direnovasi, itu mungkin mengurangi “rasa Bali” tersebut. Tapi tak ada lagi ukiran kayu khas Bali. Tak ada lagi patung Jatayu disana. Apalagi likusan penuh warna khas Bali. Bandaranya sama saja dengan bandara di Semarang, Medan, Balikpapan atau Jakarta.

Sepanjang jalan menuju daerah Sanur yang ditempuh dengan taksi bandara juga telah kehilangan “nuansa Bali”. Taman taman dipingir jalan ataupun di pembatas jalan telah tertata dengan rapi dan bagus, namun tanpa nuansa Bali. Sama dengan taman taman di Ibukota Jakarta, sama pula dengan taman yang tertata rapi di Kota Medan. Kalau kita berfoto disana, kita tidak bakal tahu bedanya dengan kalau kita berfoto di taman Kota Balikpapan.

Bukannya mau menjelek-jelekkan kondisi di Bali atau protes kepada “pemilik pulau Bali” tapi ini sekedar menyanpaikan rasa cinta kita pada wajah kota di Pulau Bali. Akan sangat rugi rasanya jika Pulau Bali tak lagi “beraroma dan berasa Bali”. Itulah yang mendasari tulisan ini. Kata orang Semarang 'eman eman banget'. Sayang sekali rasanya melihat Bali seperti itu.

Akan sangat indah bila di bandara Ngurah Rai, pada saat masuk gedung bandara, kita dapat mendengar alunan musik tradisional khas Bali. Pas menunggu ambil bagasi, kita bisa melihat lukisan penuh warna yang berkualitas khas Bali sambil mengagumi patung Jayatu diseberang sana yang tak mungkin dilihat di bandara lain. Keluar dari bangunan gedung kita disuguhi taman bandara yang “Bali banget” dengan kolam, arca batu dan tanaman kamboja khas Bali.

Akan sangat terkenang apabila taman taman kota sepanjang jalan ke Sanur terlihat banyak bangunan dan patung – patung khas Bali, agar bisa segera merasakan “nuansa Bali” yang kental. Rasa tersebut tidak hanya dirasakan oleh wisatawan yang mampir ketempat wisata seperti Pura Besakih, Ubud, Tanah Lot atau Bukit Kintamani saja, tapi oleh semua orang yang datang ke Pulau Dewata ini dengan berbagai macam keperluan. Jangan hanya wisatawan saja. Para pebisnis dan orang-orang yang “hanya lewat” juga bisa merasakan nuansa Bali yang kental. Tentunya ini sangat bagus bukan?

Tapi kapan kah itu akan terjadi?
Bali, Garam yang kurang asin 4.5 5 Agustinus Darto Iwan Setiawan Thursday, December 12, 2013 Garam yang kurang asin? Apa itu? Yup, kalau garam jadi kurang asin, kayaknya bukan garam dan harus diasinkan lagi. Kebetulan kemarin tangga...


2 comments:

Silakan berkomentar ....