Kebanggaan, Si Pisau Bermata Dua

 on Friday, October 11, 2013  



Sebuah kebanggaan merupakan satu rasa bahagia karena sesuatu yang kita miliki. Apapun yang kita miliki bisa menjadi pemicu munculnya rasa bangga. Mulai dari jabatan , pekerjaan, kepandaian sampai benda seperti rumah, mobil mewah,  ataupun sawah. Siapa saja didunia ini pasti punya kebanggaan masing-masing. Kebanggaan sangat bervariasi.

Kebanggaan sangat berkaitan dengan rasa ke-aku-an. Rasa ingin dihargai oleh orang lain yang sangat manusiawi. Rasa ke-aku-an inilah yang menggerakan kehidupan kita sehari-hari dalam berkarya sebagai presiden, dokter, ibu rumah tangga atau yang lain.Justru akan sangat aneh jika ada seseorang didunia ini yang tidak punya kebanggaan. Bahkan seorang pertapa yang sudah “putus hubungan dengan dunia” pun pasti punya kebanggaan. Mereka pasti bangga dengan pencerahan yang sudah dia alami agar melepas semua nafsu duniawi.


Jika seorang pertapa saja punya saja punya kebanggaan , pastilah kita yang hidup di “hiruk pikuk dunia yang penuh dengan dinamika” ini punya sebuah kebanggaan. Rasa ke-aku-an pasti muncul dengan kuat. Hanya saja, masing-masing dari kita, pasti berbeda cara dalam merepresentasikan kebanggaan itu. Ada yang dengan langsung ngomong ke tetangga tentang televisi LED 40 inci yang baru dia beli. Atau menyampaikan ke teman-tema di Facebook tentang anaknya yang mendapat beasiswa S2 di Jerman. Atau sebatas tersenyum simpul waktu melihat anaknya yang berumur 5 tahun berani menyanyi dengan lantang di acara ulang tahun teman TK-nya.

Kebanggaan atau rasa bangga adalah suatu energi yang murni yang muncul dari rasa cinta akan sesuatu. Dan itu adalah sesuatu yang pantas untuk dipertahankan dalam diri kita. Rasa yang berasal dari dalam diri dan patut dikembangkan untuk mendorong kehidupan kita sehari-hari.

Namun yang wajib dipahami disini, merepresentasikan, mempertahankan dan mengembangkan kebanggaan dalam diri kita perlu memperhatikan “rambu rambu tertentu”. Jangan terlalu over. Kenapa? Karena (bagi saya)  sebenarnya kebanggaan itu ibarat SEBUAH PISAU BERMATA DUA. Jika kita mampu mengolah rasa bangga dengan baik, maka rasa bangga akan mendorong kita tahap pencapaian yang lebih tinggi. Dengan sebuah kebanggaan dalam dada, kita akan mampu mencapai jabatan yang lebih baik, mampu mendapatkan pekerjaan yang lebih sempurna, mampu menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi, dan juga mampu membawa kita menjadi orang yang lebih baik.

Disisi lain, jika kebanggaan kita membuat kita buta, maka yang muncul adalah kesombongan yang tebal dan hitam pekat. Kita bisa menjadi lupa diri, meremehkan orang –orang disekitar kita, waktu rasa bangga akan mobil mewah kita (yang berharga diatas 250 juta rupiah) memenuhi hati. Menutupi mata hati dengan merepresentasikan kebanggaan mobil tersebut dengan cara bercerita tentang kehebatan mobil tersebut dipertemuan rutin RT, dimana kita tahu tetangga tetangga kita makan saja masih susah. Dapat pula sebuah kebanggaan menjadi memicu untuk menutup mata karena keberuntungan anak kita yang mendapat beasiswa S2 di Jerman dan menceritakannya kepada teman – teman sekantor, padahal kita tahu, bahwa semua itu karena berkah Tuhan semata. Masih banyak anak orang lain yang lebih pandai dan lebih cerdas.


Jadi, menurut saya, KEBANGGAAN ITU SEPERTI PISAU BERMATA DUA. Bisa menjadi bahan bakat yang tak ada habisnya untuk menambah semangat berkarya dan mendekatkan diri pada Tuhan. Tapi disisi lain juga menjadi pemicu paling potensial untuk menjadi sombong, lupa diri dan menjadi hamba Setan. 


SmartFren
Kebanggaan, Si Pisau Bermata Dua 4.5 5 Agustinus Darto Iwan Setiawan Friday, October 11, 2013 Sebuah kebanggaan merupakan satu rasa bahagia karena sesuatu yang kita miliki. Apapun yang kita miliki bisa menjadi pemicu munculnya ras...


6 comments:

  1. perumpamaan kebangaannya keren mas bro
    good luck GAnya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mas Yandhi, jangan lupa tetap main kesini ya

      Delete
  2. Kebanggaan memang melekat dalam diri manusia, yang tentunya antara manusia yang satu dengan manusia lainnya mempunyai pemahaman yang berbeda tentang arti kebanggaan. Yang jelas sebuah kebanggaan harus diselaraskan dengan rasa syukur, ketika kita bersyukur dengan apa yang kita banggakan, niscaya kesombongan itu tak akan bersemayam di hati kita

    Salam........

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, tetap harus ada pemahaman yang mendalam untuk menghindari efek negatifnya. Makasih sudah main yang meninggalkan jejak disini. Blog mbak Sri Wahyuni apa?

      Delete
  3. Pisau bermata dua, bisa jadi simbol yang tepat bagi kebanggaan. Nice Post :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak, Selamat untuk GA nya yang udah sukses

      Delete

Silakan berkomentar ....