Cakra Manggilingan, The Only Thing That Is Constant Is Change

 on Tuesday, August 26, 2014  

Tak kurang , Heraclitus, seorang filsuf besar dunia (tahun 500 sebelum masehi) yang berasal dari Yunani berkata “The Only Thing That Is Constant Is Change -” Di Dunia ini, satu satunya yang tetap adalah perubahan. Benar juga kan? Apa sih yang tidak berubah di dunia ini? Semua berubah. Terus, apa hubungannya dengan “Cakra Manggilingan” ?

Apa yang dikatakan oleh Heraclitus tersebut sejalan dengan kearifan lokal yang sudah lama diajarkan pada kebudayaan Jawa. Cakra Manggilingan juga berarti segalanya akan berputar dan berubah seiring waktu.  


Coba lihat pula potongan lirik lagu Kr Roda Dunia karangan musisi besar Indonesia, Gesang dibawah ini :
Terus berubah
Tiada tentu nanti bagaimana jadinya
Dulu bermegah, kini dalam keadaan susah
Adil dan benar, akan menang di belakang nanti

Kata-katanya sama persis dengan Heraclitus dan “Cakra Manggilingan”. Ini membuktikan bahwa sebenarnya kearifan lokal kita memang tidak kalah dengan pemikiran para filsuf Yunani yang sudah diakui dunia. Bahkan mungkin juga, jika kita lebih dulu “mengumumkan pada dunia” tentang Cakra Manggilingan, karifan ini yang akan menjadi filosofi yang terkenal.

Kita masuk pada inti dari Cakra Manggilingan. Apa artinya sih? Cara paling sederhana dan paling pas untuk memahami dan mengerti artinya adalah dengan memahami dua kata yang membentuknya.

Yang pertama adalah kata Cakra. Cakra bisa diartikan dengan cakram atau roda. Sedang kata Manggilingan artinya berputar atau menggerus. Manggilingan berasal dari bahasa Jawa, giling, yang artinya menggelinding dengan berputar.  Jadi jika kita sambungkan, arti Cakra Manggilingan adalah cakram atau roda  yang berputar, yang berarti kehidupan itu akan selalu berputar. Demikian pula dengan berputar dan terbatasnya kekuasaan.

Arti dari Cakra ini adalah waktu. Bersama dengan berputarnya waktu, semua hal akan berubah. Yang tadinya baik bisa berubah jadi buruk, yang tadinya buruk bisa berubah jadi baik.

Yang tadinya “diatas angin” bisa berubah “roboh berkalang tanah”. Yang dulunya berkuasa suatu saat akan kehilangan kekuasaanya. Yang tadinya tampan dan cantik seperti selebritis papan atas, lama-lama akan keriput dan jompo. Yang tadinya bingung menghabiskan uang trilyunan, suatu saat akan dimakan cacing dalam tanah.

Kita sebagai manusia haruslah selalu ingat akan Cakra Manggilingan dan tidak manjadi tamak atau sok kuasa / sok kuat. Harus tahu bahwa semua akan bisa berubah suatu waktu. Waktu dan perubahan merupakan sebuah kodrat yang tak bisa ditolak oleh semua mahluk fana di dunia ini.

Hidup itu sendiri seperti roda yang berputar. KADANG DIATAS KADANG DIBAWAH. Jangan terlalu membanggakan dan sok dengan yang kita miliki, jika kita sedang diatas. Jangan terlalu sedih yang bermuram dengan apa yang terjadi pada diri kita, jika kita sedang dibawah. Semua bisa bergulir lagi.

Konsep Cakra Manggilingan merupakan kearifan lokal hasil pemikiran asli penghuni pulau Jawa. Kemudian dipengaruhi oleh budaya Hindu dan Islam. Ketiga budaya ini saling menguatkan dan memperjelas artinya.

Kunci dari menghadapi Cakra Manggilingan adalah berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mau menerima kenyataan dan tak kenal menyerah memutar roda kehidupan bagi yang berada dibawah. Harus bisa menikmati semua yang ada. Konsep menikmati itu bukan hanya tentang kebahagiaan atau rejeki berlimpah saja tapi juga saat menerima masalah. Harus diterima dan tiak boleh lari, karena semua itu adalah “Cakra Manggilingan” hidup kita. Tak ada yang bakal lolos dari putarnya. Jangan sibuk mencari kesalahan orang lain, tapi tetaplah berserah dan yakin bahwa roda keidupan pasti terus berputar karena kehendakNYA.

Dalam Cakra Manggilingan , ada tiga komponen yang dipercaya oleh orang Jawa , harus mampu disatukan agar roda terus berputar. Tiga komponen itu disebut “TriWikrama”. Tiga komponen itu adalah masa lalu, masa sekarang dan masa depan.

Apa yang kita dapat pada masa ini , merupakan buah pilihan kita pada masa lalu. Sedangkan apa yang akan “menimpa” di masa depan kita adalah apa yang kita kerjakan sekarang. Yang dapat menerapkan konsep Triwikrama dan Cakra Manggilingan akan menjadi manusia yang siap, bisa berserah dan sekaligus bersemangat dan visioner. Tidak terjerumus dalam dosa saat diatas dan tidak terpuruk pada saat dibawah. 


Dalam cerita pewayangan, ada versi kata Cakra Manggilingan yang khusus. Artinya adalah adanya perputaran kekuasaan. Ilustrasinya seperti ini : Semar (dan anak-anaknya) harus tunduk dibawah kekuasaan para Pandawa. Pandawa sendiri harus tunduk pada kekuasaan Bathara Guru. Bathara Guru harus tunduk pada kekuasaan kakaknya yang lebih tua dan lebih sakti, Bathara Ismaya, yang tak lain adalah Semar sendiri.

Hal tersebut diatas juga sudah terbukti di Jawa dan Indonesia sendiri. Ini terkait dengan pesta rakyat yang telah kita laksanakan pada tanggal 9 Juli 2014 kemarin (Pilpres). Rakyat harus tunduk pada perintah Presiden sebagai Kepala Negara. Presiden harus tunduk pada keputusan MPR. Dan jangan lupa, MPR harus tunduk pada kepentingan rakyat Indonesia. Jadi sangat pas jika Presiden dan MPR paham arti Cakra Manggilingan.

Bentuk Cakra Manggilingan yang melingkar tertutup itu mempunyai makna yang dalam juga, yaitu keseimbangan. Sama seperti lambang Yin-Yang dalam kebudayaan Tiongkok. Semua bagian harus berfungsi dengan baik. Jika salah satu tidak berfungsi, maka yang lain akan terganggu. Jika Presiden tidak melaksanakan tugas dengan baik, maka rakyat tidak akan terlayani. Jika MPR tidak benar, maka Presiden akan susah menjalankan tugasnya. Jika rakyat meminta hal-hal yang tidak benar, maka pasti MPR tidak mungkin bisa menjalankan amanat rakyat dengan baik.

Kearifan lokal ini ternyata sejajar dengan kearifan universal di dunia. Filsuf Yunani (heraclitus, Empedocles) dan filsuf Tiongkok (Confucius, Tao, I-Ching), semua memiliki kesetaraan dan kesejajaran dengan pemikiran lokal yang ada pada Cakra Manggilingan. Juga filsuf modern seperti Saint Simon dan Herbert Spencer juga mendukung esensi Cakra Manggilingan (silakan cari di internet tentang filsuf-filsuf tersebut).

Indonesia akan diberi “masa terang” pada saat Cakra Manggilingan berputar dan menunjukkan “pandawa mulat sirnaning temanten” yang oleh pujangga Jawa bisa diartikan dengan sebuah angka tahun di abad 21 ini. Itu artinya Indonesia akan bangkit pada abad 21 ini asal terus berusaha dan tidak keluar dari jalur.

Banyak contoh dalam kehidupan yang terjadi didunia kita saat ini yang bisa menggambarkan berputarnya roda dunia Cakra Manggilingan. Contoh yang jelas, bagaimana dulu Ir. Soekarno dipuja, kemudian dihujat pada masa setelahnya, namun kemudian juga dipuji kembali. Hal ini juga terjadi jaman HM Soeharto, yang berkuasa penuh di Indonesia, kemudian dicampakkan pada kondisi terendah, tapi kemudian dipuja kembali pada suatu masa.


Cakra Manggilingan, The Only Thing That Is Constant Is Change 4.5 5 Agustinus Darto Iwan Setiawan Tuesday, August 26, 2014 Tak kurang , Heraclitus, seorang filsuf besar dunia (tahun 500 sebelum masehi) yang berasal dari Yunani berkata “The Only Thing That Is Con...


10 comments:

  1. Hidup itu berputar seperti roda... kadang di bawah kadang di atas...

    ReplyDelete
  2. kabeh ono mangsane, Mas! mangsa ketigo, mongso udan, mongso panen, mongso puso, mongso mulyo, mongso nista, mongso urip, mongso mati ..... :)

    ReplyDelete
  3. Dalem banget ya pak filosofi di balik cakra manggilingan ini. Makasih utk sharenya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, local wisdom yang kelas dunia nih. Sama-sama mbak

      Delete
  4. Alhamdulillaah..., baru kali ini saya mendapatkan ihwal cakra manggilingan secara lengkap. Makasih banyak ya, Pak.

    ReplyDelete
  5. trimakasih untuk artikelnya pak..
    saya mau bertanya apakah ada buku yang bisa dijadikan sumber tentang cakra manggilingan tersebut, karena saya perlu untuk studi saya..
    terimaksih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenarnya ada beberapa buku yang memuat ttg Cakra Manggilingan

      Delete

Silakan berkomentar ....