Indonesia Masih dalam Masa Penjajahan di bidang Telekomunikasi

 on Thursday, March 27, 2014  

Di sekitar Cikampek, ada salah satu jalan layang yang sisinya di cat merah dengan tulisan besar "Telkomsel Paling Indonesia". Tulisannya cukup besar dan ditulis berulang. Sangat terbaca dari dalam kereta Argo Bromo Anggrek yang membawa aku pulang ke Semarang. 

Seketika itu juga aku jadi teringat dengan diskusi yang pernah aku lakukan dengan salah satu pemerhati teknologi telekomunikasi, bapak Onno W Purbo. Dalam diskusi tersebut aku pernah menanyakan perihal operator telepon seluler atau yang lebih sering dikenal dengan nama provider telepon seluler. 

Cukup menarik. Dari diskusi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ternyata tidak ada satupun provider tersebut yang dimiliki oleh swasta nasional Indonesia. Semua sudah 'dibeli' oleh pihak asing. Hanya satu yang 'masih lumayan' yaitu Telkomsel yang sebagian besar masih 'milik Indonesia'. 

Aku bukan mau promosi atau membela provider yang satu ini. Karena bagi orang awam seperti aku ini, semua provider sama saja. Tergantung selera masing- masing dan kondisi signal. 

Yang menjadi keprihatinan adalah kenyataan bahwa pemilik provider seluler adalah pihak asing. Itu artinya pengguna telepon seluler justru mendukung dan menyumbang kemakmuran pihak asing. Padahal kemakmuran dan kondisi bangsa Indonesia masih memprihatikan. Lalu kenapa harus menyejahterakan pihak asing? 

Entah bagaimana ceritanya sampai semua perusahaan itu bisa jatuh ke tangan pihak asing. Dengar- dengar , memang provider itu sengaja dijual. Oleh siapa dan karena apa, itu yang belum jelas. Ada yang bilang untuk menyelamatkan para pekerja provider tersebut. Biar tidak gulung tikar katanya. Biar gak banyak PHK dan penggangguran. 

Pernah terpikirkan oleh kita bagaimana jadinya jika pemilik provider itu memutuskan untuk lebih memilih berinvestasi dibidang lain dan akhirnya provider tersebut 'shut down'. Bukankah artinya PHK juga? Boleh saja kan, pihak asing tersebut melakukan itu? Dijualnya provider itu,tentu saja merugikan bangsa Indonesia. 

Memang nasi sudah menjadi bubur. Sudah terjadi ,paling hanya bisa disesali. Yang penting sekarang kita Harus mencari solusi untuk membeli kembali 'milik Indonesia' itu. Mimpi di siang bolong? Boleh saja kalau ada yang beranggapan seperti itu. Tapi yang jelas, Walau mimpi disiang bolong, mimpi itu adalah mimpi untuk Indonesia yang lebih bermartabat.
Indonesia Masih dalam Masa Penjajahan di bidang Telekomunikasi 4.5 5 Agustinus Darto Iwan Setiawan Thursday, March 27, 2014 Telekomuikasi, Indonesia Di sekitar Cikampek, ada salah satu jalan layang yang sisinya di cat merah dengan tulisan besar "Telkomsel Paling Indonesia". Tul...


8 comments:

  1. Replies
    1. fakta yang pahit, moga segera kembali ke pangkuan ibu pertiwi

      Delete
  2. Pertama, karena riset teknologi di Indonesia itu minim. Kedua, karena sebagian besar lebih memilih teknologi asing untuk diterapkan di Indonesia. Ketiga, karena sebagian besar masyarakat Indonesia itu orientasinya masih dalam tahap memakai, bukan mengembangkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Intinya mental kita masih mental konsumtif ya? sedih juga

      Delete
  3. Y, tak hanya di bidang telekomunikasi, di bidang lainnya pun nyaris serupa. Bangsa ini gandrung akan penjajahan.... kita tak memiliki semangat sebagai sebuah bangsa yang merdeka. Mungkin nanti, masih berharap-kita memiliki pemimpin yang punya karakter dan semangat sebagai bangsa Merdeka...

    salam :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih harus didorong untuk mandiri dan merdeka. korupsi justru membuat penjajahan ini makin parah

      Delete
  4. Informasi yg bagus. Saya baru sadar bahwa Indonesia masih bergantung pada negara lain dalam berbagai hal termasuk telekomunikasi. Indonesia harus berubah dari konsumtif ke produktif :)

    ReplyDelete

Silakan berkomentar ....